|
Dalam rangkaian kunjungan ke Lebanon dengan mengusung misi perdamaian, Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi mendapat kehormatan untuk memberikan ceramah umum di depan lebih dari 150 ulama Lebanon dari sekte Sunni dan Syiah.
Pemandangan terkumpulnya ulama dari kedua sekte tersebut di Lebanon sendiri terbilang langka, mengingat selama ini, hubungan antar sekte relatif ‘saling mencurigai’. Tidak berlebihan sekiranya NU ikut berpartisipasi menyukseskan ‘persatuan umat’ setidaknya di negara kecil mediterania yang pernah tercabik-cabik isu sektarianisme akibat perang saudara 20 tahun yang lalu itu.
Acara yang diliput media cetak dan elektronik lokal tersebut dimulai dengan sambutan dari pimpinan Tajamo (liga) Ulama Lebanon, Seikh Ahmad Maulana Zein yang antara lain menyampaikan bahwa sudah semestinya kita bersatu sebelum kita menyerang pihak lain terutama dalam membebaskan Palestina. Kita seharusnya menyeru kalangan umat Islam terlebih dahulu agar dapat menyatukan persepsi kita, kemudian baru di bidang politik, ekonomi dan sosial. Tiba gilirannya, KH. HAsyim Muzadi sebelum memberi tausiyah tentang pentingnya persatuan umat, menceritakan secara runut bagaiman Islam masuk ke Indonesia melalui budaya, beradab, santun dan damai. Beliau tak lupa mengupas kisah walisongo dan metode dakwahnya sehingga sukses mengislamkan lebih dari 85% masyarakat tanah air yang berjumlah total 230 juta jiwa itu. Hasil dakwah yang teduh tesebut memunculkan masyarakat Muslim moderat yang dibalut ukhuwwah Islamiya, ukhuwwah Sy’abiyyah (persatuan nasional) dan ukhuwwah baysariyyah (persaudaraan sesama manusia).  Lebih jauh, Ketua PBNU menyampaikan bahwa perbedaan pendapat merupakan keniscayaan kehidupan yang telah ada sejak terbentuknya komunitas manusia. Perbedaan ini menyangkut semua aspek kehidupan termasuk keyakinan dan agama. Dengan demikian perbedaan adalah keniscayaan dan persaudaraan adalah keharusan yang harus diwujudkan. Perbedaan dan keragaman dalam kehidupan memang tidak bisa dihindarkan tapi pada saat yang sama manusia dituntut Al-Qur’an untuk bersatu dan bekerja sama. KH.A.Hasyim Muzadi juga menegaskan bahwa jika semangat melakukan persatuan dengan umat agama lain dapat dilakukan, maka hal yang sama semestinya akan lebih mudah dilakukan dengan sesama umat Islam dengan akidah yang sama. Jika umat Islam tidak menyadari pentingnya ukhuwah, maka jangan salahkan jika kepentingan-kepentingan di luar Islam dapat menghancurkan Islam. Umat Islam yang terpecah belah hanya akan merusak kekuatan politik dan ekonomi umat Islam sendiri. Ketua PBNU itu juga menceritakan bagaimana ulama dan umat Islam di Indonesai bersatu padu memerdekaan Indonesai dari cengkeraman penajajahan Belanda selama 350 tahun. Diceritakan oleh KH. Hasyim bahwa penyebab lamanya Belnda bisa menjajah Indonesia adalah tidak adanya persatuan umat dan ulama pada waktu itu, namun setelah mereka bersatu padu dicapailah kemerdekaan pada tahaun 1945 melalui perjuangan dan pengorbanan. Ditegaskan oleh KH. Hasyim, jika bangsa Arab dan Umat Islam sedunia ingin melihat Palestina merdeka dan Masjidil Aqsa kembali ke pangkuan umat, maka kunci utama adalah persatuan yang dimulai dari para ulamanya. Penandatanganan MoU kerjasama NU-Liga Ulama Lebanon Di akhir acara, PBNU dan Tajammu Ulama Lebanon menyepakati sebuah MoU kerjasama dan mendeklarasikan pernyataan bersama mengenai keprihatinan mengenai penderitaan bangsa Palestina terutama penduduk Gaza. Pernyataan bersam tersebut mengecam Israel atas aksi embargo dan blokadenya kepada Gaza dan menyayangkan sikap Mesir yang ikut-ikutan membangun pagar betonnya di perbatasannya dengan Gaza. Pembacaan Naskah MoU oleh KH. Masyhuri Naim, Rois Syuriah
Penandatanganan MoU oleh KH. HAsyim Muzadi (NU) dan Seikh Hassan Abdallah (Tajammu) Plakat persatuan : Seikh Hassan Abdallah (Syiah), KH. HAsyim Muzadi & Seikh Ahmad Zein (Sunni)
» No Comments
There are no comments up to now.
» Post Comment
|